Peta persaingan industri telekomunikasi Indonesia memasuki babak baru. Perusahaan penyedia layanan internet terkemuka, Bnetfit, secara resmi mengumumkan peta jalan (roadmap) strategisnya di tahun 2026. Tidak lagi sekadar menjadi penyedia konektivitas biasa, perusahaan kini bertransformasi menjadi pilar utama infrastruktur digital di tingkat domestik maupun regional.
Langkah ekspansif ini menandai kesiapan perusahaan untuk bersaing di jajaran ISP Nasional papan atas. Guna merealisasikan visi tersebut, Bnetfit telah merancang ekosistem teknologi yang komprehensif, mulai dari pemanfaatan sistem kecerdasan buatan (Automation & AI), solusi komputasi awan (Cloud scalable), sistem keamanan siber mutakhir, pengelolaan Data Center melalui Nexbyte, hingga integrasi IoT untuk kebutuhan industri serta pengembangan implementasi smart city.
Teknologi DWDM Mutakhir untuk Jaringan Internet Super Cepat
Demi menopang lonjakan kebutuhan pasar akan layanan Internet berkecepatan tinggi, Bnetfit mengadopsi teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) generasi paling anyar. Inovasi ini memungkinkan kapasitas Jaringan Internet berbasis fiber optik melonjak drastis secara efisien, tanpa memerlukan pembongkaran atau pembangunan jalur kabel fisik yang baru.
Sistem DWDM yang diimplementasikan ini mampu mengalirkan lebih dari 96 kanal data secara simultan. Kecepatan yang dihasilkan pun sangat masif, mulai dari skala 100 Gbps, 400 Gbps, hingga menembus angka 800 Gbps ke atas. Selain memberikan jaminan performa koneksi yang optimal, pemanfaatan teknologi modern ini dinilai mampu menyederhanakan arsitektur infrastruktur sekaligus menekan tingkat konsumsi daya energi secara signifikan.
Baca juga : Mengenal China Mobile yang Populer di Kalangan RT RW Net Indonesia
Konektivitas Global dan Tulang Punggung Domestik
Ambisi Bnetfit untuk menghadirkan kualitas Wifi Terbaik bagi masyarakat tidak hanya berfokus pada jalur lokal, melainkan juga diperkuat oleh jalur backbone internasional yang solid. Pada sektor interkoneksi global, jaringan perusahaan disokong oleh sistem kabel bawah laut terintegrasi, yakni SEA Cable Exchange-1 (SeaX-1) serta Super Sistem Batam-Singapura (SSBS) sepanjang 250 kilometer. Jalur strategis ini menghubungkan wilayah Mersing (Malaysia), Changi (Singapura), hingga Batam (Indonesia).
Sementara untuk memperkuat ketahanan domestik, Bnetfit mengandalkan bentangan kabel laut BTI-1 dengan panjang mencapai 4.500 kilometer. Infrastruktur masif ini merajut koneksi dari Batam, Jakarta, Manado, dengan titik percabangan strategis ke kota-kota besar lain seperti Gresik, Makassar, hingga Balikpapan. Jaringan kabel laut inilah yang diposisikan sebagai tulang punggung utama dalam mengalirkan trafik data secara nasional.
Tidak berhenti di situ, guna mempercepat pemerataan akses, ISP ini juga menjalin kemitraan strategis bermodel open access dengan Link Net Tbk dan Asianet. Kolaborasi ini membuka akses pemanfaatan lebih dari 7 juta jaringan koridor rumah (homepass) yang tersebar di berbagai penjuru nusantara.
GM Business Development Bnetfit, Galuh Kusumah, menegaskan bahwa ekspansi jaringan akan terus digenjot secara agresif.
“Bnetfit memiliki cita-cita besar untuk memosisikan diri sebagai mitra strategis dalam mengakselerasi transformasi digital di tanah air. Berawal dari wilayah Jakarta, kami berkomitmen untuk terus mengekspansi jaringan ke berbagai kota di seluruh Indonesia. Kami menghadirkan solusi digital yang scalable, aman, serta andal untuk menyokong pertumbuhan sektor bisnis dan kehidupan masyarakat luas,” tutur Galuh di Jakarta.
Restrukturisasi Manajemen Demi Ekosistem Digital
Perubahan besar ini turut diimbangi dengan langkah penyegaran di jajaran kepemimpinan perusahaan. Victor Irianto, yang sebelumnya menakhodai perusahaan sebagai CEO, kini menduduki posisi sebagai Komisaris guna mengawal perumusan arah kebijakan strategis jangka panjang. Posisi Chief Executive Officer (CEO) kini secara resmi diamanatkan kepada Ade Tjendra.
Victor Irianto menyampaikan bahwa adaptasi digital di era sekarang sudah bergeser dari sekadar opsi menjadi sebuah urgensi yang mutlak dipenuhi demi kemajuan industri.
“Saat ini, transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Kami ingin memastikan Bnetfit berdiri di garda terdepan dalam membangun ekosistem teknologi digital nasional. Ekosistem ini dirancang untuk menyokong kebutuhan otomatisasi industri, memfasilitasi adopsi kecerdasan buatan (AI), serta mendukung ekspansi pasar cloud dan data center yang tumbuh masif. Indonesia harus memiliki keterhubungan yang kuat, baik di lingkup domestik maupun internasional,” kata Victor.
Baca juga : ISP Lokal LJN Sukses Bangun Otak Sistem Billing AI Sendiri
Senada dengan hal tersebut, CEO Bnetfit yang baru, Ade Tjendra, menegaskan bahwa orientasi korporasi ke depan adalah melangkah jauh melampaui peran konvensional sebuah perusahaan penyedia jasa internet.
“Kami tidak ingin membatasi peran hanya sebagai penyedia layanan internet semata. Lebih dari itu, kami berkomitmen menjadi fondasi utama bagi perkembangan peradaban digital di Indonesia. Melalui penyediaan infrastruktur yang tangguh, aman, dan dapat diandalkan, kami sedang menenun masa depan konektivitas yang mampu menopang proses transformasi digital bagi pemerintah, sektor industri, hingga generasi penerus bangsa,” pungkas Ade.






