Halo Sobat Digital! Sadar nggak sih, belakangan ini kebutuhan kita akan koneksi Internet yang ngebut dan super stabil sudah masuk kategori kebutuhan pokok? Mulai dari streaming film beresolusi 4K, main game online tanpa lag, sampai yang paling baru: tren penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Nah, usut punya usut, semua teknologi canggih itu butuh “jalan tol” data yang sangat lebar agar bisa berfungsi maksimal.
Kabar baiknya, baru-baru ini ada gebrakan luar biasa dari Jala Lintas Media (JLM). Perusahaan penyedia solusi jaringan ini secara resmi memperkuat infrastruktur konektivitas digital Indonesia dengan membangun proyek raksasa bernama INSIGHT (Indonesia-Singapore Gateway High Speed Transmission). Nggak tanggung-tanggung, proyek ini berupa penarikan Kabel Bawah Laut yang membentang dari Jakarta, singgah di Batam, hingga akhirnya berujung di Singapura!
Buat kalian yang penasaran seberapa masif proyek ini dan apa dampaknya buat kita, yuk kita bedah tuntas inovasi gila yang bakal mengubah peta telekomunikasi di tanah air ini.
“Jalan Tol” Sepanjang 1.123 Kilometer Berkekuatan 30 Tbps!
Bicara soal spesifikasi, proyek INSIGHT ini benar-benar bikin melongo. JLM menggelar infrastruktur Kabel Bawah Laut dengan total panjang sekitar 1.123 kilometer. Rinciannya, rute dari Jakarta menuju Batam saja sudah memakan jarak sekitar 1.053 kilometer, dan sisanya dilanjutkan menyeberang dari Batam menuju Singapura.
Yang paling bikin takjub adalah kapasitas muatannya. Infrastruktur ini dirancang mampu menampung kapasitas bandwidth hingga 30 Terabit per detik (Tbps)! Coba bayangkan berapa juta film High Definition yang bisa ditransfer dalam waktu satu detik dengan kapasitas sebesar itu.
Radumalem Tarigan, selaku GM Network Service Solution JLM, membocorkan bahwa kapasitas super jumbo ini memang sengaja dipersiapkan sejak dini. Tujuannya jelas, untuk mengantisipasi ledakan kebutuhan konektivitas di masa depan, terutama dengan makin masifnya penetrasi AI, cloud computing (komputasi awan), distribusi konten (CDN), hingga pertumbuhan ekosistem data center di Indonesia.
Kenapa Era AI Butuh Konektivitas Internasional?
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa hubungannya AI dengan kabel di dasar laut? Jadi begini, sistem AI canggih seperti yang sering kita pakai itu butuh “makan” berupa data dalam jumlah yang sangat masif. Masalahnya, sumber data dan server pengolahan utama dari raksasa teknologi itu mayoritas tidak berada di Indonesia.
“AI itu butuh data, data yang banyak sekali, butuh bandwidth yang besar dan connectivity internasional karena source-nya bukan di Indonesia,” papar Radu dalam acara Media Briefing JLM INSIGHT Submarine Backbone, pada Kamis (8/10/2026).
Singapura sendiri sengaja dipilih sebagai titik ujung rute karena posisinya yang sudah diakui sebagai hub digital dan pusat konektivitas internasional utama di kawasan ASEAN. Dengan menghubungkan Jakarta ke Singapura secara langsung, JLM menghadirkan jalur alternatif Backbone (tulang punggung jaringan) yang sangat krusial.
Hadirnya jalur alternatif ini otomatis akan membuat Kecepatan Internet di Indonesia jadi jauh lebih stabil dan reliable. Kalau satu jalur sedang gangguan, traffic data bisa dialihkan ke jalur INSIGHT ini, sehingga risiko internet down berskala nasional bisa ditekan seminimal mungkin.
Spesifikasi Teknis Jaringan INSIGHT JLM:
-
Jalur Lintasan: Menghubungkan tiga titik strategis, yakni Jakarta, transit di Batam, dan bermuara di Singapura.
-
Total Bentangan Kabel: Membentang sejauh 1.123 kilometer.
-
Daya Tampung (Bandwidth): Mampu menyalurkan trafik data dengan kapasitas maksimal mencapai 30 Terabit per detik (Tbps).
-
Opsi Layanan Jaringan: Mencakup IP Transit, Wavelength, serta IPLC (International Private Leased Circuit).
-
Segmen Pasar: Diprioritaskan untuk menyokong kebutuhan konektivitas lintas negara (international) bagi klien berskala besar (wholesale).
-
Keandalan Sistem: Dirancang tangguh dengan mengusung More Resilient Connectivity, memiliki variasi jalur cadangan (Route Diversity), serta Stronger Redundancy untuk mencegah downtime.
-
Kesiapan Infrastruktur: Mengusung standar Hyperscale Data Center Ready yang mampu melayani pusat data berskala raksasa.
-
Fungsi Interkoneksi: Difokuskan untuk memfasilitasi kelancaran sambungan pertukaran data secara langsung antar-fasilitas data center.
Melirik Potensi Batam Sebagai Surga Data Center
Satu hal yang menarik dari rute INSIGHT ini adalah menjadikan Pulau Batam sebagai titik singgah ( landing station). Keputusan ini ternyata sangat taktis. JLM melihat bahwa Batam punya potensi luar biasa raksasa untuk dikembangkan sebagai kawasan data center (pusat data) utama di luar Pulau Jawa.
Kita tahu bahwa data center dan fasilitas pengolahan AI butuh pasokan listrik yang sangat besar. Batam menawarkan alternatif infrastruktur energi yang mumpuni ketika Pulau Jawa dirasa sudah terlalu padat. “Di luar Pulau Jawa ada alternatifnya Batam. Kenapa kita bikin Jakarta, Batam, Singapura? Salah satunya untuk ekosistem data center,” jelas Radu.
Hadirnya rute Jakarta-Batam-Singapura ini otomatis menjadi “karpet merah” bagi para perusahaan teknologi global. Layanan International Private Leased Circuit (IPLC) dan interkoneksi yang disiapkan JLM dipastikan akan sangat memanjakan berbagai operator telekomunikasi, ISP (Internet Service Provider) lokal, penyedia layanan cloud global sekelas Amazon, Microsoft, dan Google, hingga korporasi besar lainnya.
Porsi Kecil yang Jadi Penentu Kesuksesan
Dalam kesempatan yang sama, CEO JLM, Victor Irianto, memberikan pandangan yang sangat insightful dari kacamata investasi bisnis. Victor mengungkapkan bahwa jika kita membedah total investasi untuk membangun infrastruktur AI, alokasi dana untuk komponen konektivitas sebenarnya paling kecil.
Sekitar 50 persen modal biasanya tersedot habis untuk membeli perangkat keras super mahal seperti GPU, memory, server, dan storage. Sementara itu, kebutuhan listrik memakan porsi sekitar 8 hingga 10 persen. Nah, konektivitas mengambil porsi sisanya.
Namun, jangan salah kaprah! Meskipun porsinya paling kecil secara persentase biaya, konektivitas adalah faktor penentu hidup matinya sebuah sistem AI. Tanpa jaringan Internet internasional yang memadai dan latency (keterlambatan) yang rendah, perangkat GPU miliaran rupiah tersebut tidak akan bisa bekerja secara optimal.
Era Baru Jala Lintas Media
Langkah berani membangun proyek INSIGHT ini juga sekaligus menjadi simbol transformasi bisnis JLM Group. Berdiri sejak tahun 2009, JLM dulunya lebih banyak bermain “kandang” dengan berfokus pada konektivitas domestik dan solusi ICT. Kini, mereka resmi melangkah ke panggung global dengan mengusung bendera International Wholesale Connectivity.
Pergeseran strategi menjadi penyuplai bandwidth internasional ini tentu diharapkan membawa cuan yang lebih besar. Perusahaan pun mematok target optimistis berupa pertumbuhan pendapatan di angka 20 hingga 30 persen dalam dua tahun ke depan.
Kira-kira, dengan hadirnya “jalan tol” dasar laut terbaru berkapasitas 30 Tbps ini, sejauh mana ya efeknya bakal terasa di HP atau router Wi-Fi rumah kita nanti? Yang pasti, masa depan ekosistem digital Indonesia terlihat semakin cerah dan siap bersaing di kancah global. Mari kita tunggu kejutannya!
Referensi Berita: INSIGHT JLM Hadir, Backbone Kabel Laut 1.123 Km Hubungkan Indonesia dan Singapura









